Saya senang melihat festival. Karena bagi saya festival bisa memberikan gambaran ringkas akan kultur dan budaya suatu bangsa. Di festival kita bisa melihat bagaimana mobilisasi massa peserta pestival dan penontonnya, keanekaragaman warna budaya , keunikan yang ditampilkan, spririt dan euforia serentak, kebersamaan dalam perbedaan bahkan kesatuan atas satu tujuan. Setiap bangsa, setiap daerah, suku bahkan sekumpulan komunitas dapat menjadikan festival sebagai ungkapan kegembiraan bersama atas suatu moment bersejarah, rasa syukur atas suatu pencapaian keberhasilan, sebagai sarana untuk mempererat pertautan antar budaya yang berbeda. Bagi kalangan raja raja atau bangsawan moment bersejarah yang terjadi di kalangan keluarga raja misalnya kelahiran putra raja, pernikahan, penobatan, kembalinya pejuang dari peperangan yang membawa kemenangan kemudian diperingati secara besar besaran sebagaimana suatu festival.
Mungkin anda pernah mendengar Beer Festival, festival yang menampilkan berbagai jenis beer yang diproduksi dan dikonsumsi suatu daerah. Beragam keunikan dan kemeriahan ditampilkan. Saya bukan peminum minuman yang mengandung alkohol. Suatu waktu saya dan istri tertarik untuk melihat Beer Festival di Ludwisberg Germany. Sebagai rasa keingintahuan akan kultur budaya setempat. Sejak pagi hari hampir semua orang dewasa (dan remaja) beramai ramai menuju tempat festival dengan mengenakan berbagai jenis atribut, menarik gerobak berisi beer. Sambil bernyanyi riang gembira dan sesekali meneriakan yel yel. Setiap kelompok berlomba untuk tampil seunik dan semenarik mungkin. Semua orang menikmati penampilan mereka dan menyambutnya dengan tepuk tangan meriah. Menjelang siang hari semua peserta festival sudah berkumpul di lapangan terbuka tepatnya di padang rumput ditengah tengah perkebunan. Tenda tenda yang menampilkan berbagai jenis beer dan makanan ringan penuh dengan peserta dan penonton festival. bangku dan meja panjang di gelar di bawah sinar matahari spring juga penuh dan meriah. anak anak riang gembira berlarian di sekitar festival dan mencoba berbagai jenis permainan. Petugas kepolisian dan hospital standby di tempat untuk membantu kelancaran festival. Saya tidak melihat ada biaya tinggi yang dikeluarkan untuk festival seperti ini. Penyelenggaraan yang simpel, sederhana dan mampu memikat semua pengunjung. Festival beer ini juga menjadi ajang pertemuan antara kawan yang mungkin sudah lama tidak bertemu.Festival beer setiap tahunnya diadakan di berbagai negara di eropa, USA dan Canada.
Suatu waktu di musim panas saya pernah menyaksikan upacara pergantian pengawal istana Buckingham di pusat kota London, UK. Suatu upacara rutin tapi berlangsung sangat unik dan menarik. Ribuan penonton (termasuk turis asing tentunya) memadati pagar depan istana berlomba mendapat tempat di depan dan siap mengabadikan segala aktifitas pengawal kerajaan yang berkostum lengkap dan sangat rapi. Pasukan kaveleri berkuda dari kerajaan berpakain ksatria sangat menarik dan fantastis. Kudanya bepostur tinggi, tegap dan gagah serasi dengan penunggangnya berbaris rapi di dalam pagar istana, Di luar pagar pasukan polisi berkuda mengatur penonton supaya tidak terlalu dekat dengan prosesi upacara. Anak anak digendok di atas pundak ayahnya untuk bisa melihat jalannya upacara. Tepuk tangan penonton untuk setiap prosesi menarik yang diperagakan para pengawal. Mulai dari laporan kepala pasukan penjaga yang lama dan pengambil alihan kepada kepala pasukan penjaga yang baru tiba. Barisan tegap para pengawal istana dengan seragam khas marna merah dan topi woll hitam menambah kagum para pengunjung. Prosesi yang sederhana namun tertata rapi mampu memikat ribuan pengunjung.
Peringatan National Day di Norway luar biasa fantastis dan menarik. Forecast cuaca memperkirakan di hari nasional akan hujan sepanjang hari. Dua anak saya menjadi peserta Parade mewakili sekolah mereka. Syaikha bertugas membawa bendera kebangsaan Indonesia dan Syahla memainkan klarinet di marching band sekolah mereka. Pemerintah kota Stavanger sejak beberapa hari sebelumnya sudah mengumumkan jadual kegiatan National Day di media massa, termasuk rute rute dan seluruh peserta yang akan memeriahkan parade. Saya dan keluarga tentunya sudah bersiap siap sejak dua hari sebelumnya. Tiga minggu sebelum Nasional Day saya sangat sering menjumpai Ibu-ibu, Nenek dan gadis Norway mengenakan Bunad pakain traditional Norway. Saya sangat kagum dengan keindahan Bunad. Setiap orang yang memakainya terkesan anggun, rapi dan sangat menarik. Di hari Nasional semua pria dan wanita , orang tua dan anak anak mengenakan Bunad baik peserta parade ataupun penonton. Dengan pakaian yang berwarna warni semuanya bergembira ria dan bangga akan bangsanya. Bendera Norway berkibar di mana mana. Sayapun memasang bendera di atas teras rumah untuk menghormati bangsa yang sedang bergembira. Dibawah guyuran hujan dan temperatur 6 derajat, semangat peserta parade dan penonton tidak luntur. Berbagai atraksi menarik diperagakan. Pemerintah membagi bagi rute parade dalam beberapa warna dengan start dan finish yang berbeda supaya tidak ada kemacetan lalu lintas. Saya dan keluarga mengikuti Parade warna hijau. Penonton berjejer rapi di tepi jalan melambaikan bendera dan menyambut meriah setiap atraksi. Ada parade dansa yang di gelar sekolah menengah, marching band hampir semua sekolah termasuk dari sekolah International anak saya. Di barisan terdepan petugas pemadam kebakaran dengan mobil branwir tua tapi masih mengkilat dan cemerlang dikawal polisi bermotor. Kedua anak saya terlihat sangat bersemangat dan menikmati Parade, pengalaman pertama bagi mereka. Saya teringat ketika masih SD, SMP dan SMA di kampung halaman. setiap menjelang 17 Agustus selalu ada lomba gerak jalan dan parade. Saya selalu ikut parade dan menikmati persiapan dan pelaksanaannya.

Bagaimana dengan festival kebudayaan seperti Erau misalnya? apabila dikelola secara profesional dan dikemas rapi saya yakin mampu mendatangkan puluhan ribu turis. Karena Erau sangatlah penuh dengan pesan budaya dan moral. Keunikan kultur dan keanekaragamannya saya kira akan mampu membuat decak kagum para turis. terlebih lagi Erau bisa dijadikan ajang mempersatukan suku suku yang ada di Kalimantan, bersatu dalam perbedaan. Acara seremoni yang tidak ada hubungannya dengan akar kultur setempat misalnya penyambutan yang berlebihan terhadap pejabat pemerintah sebaiknya dihapuskan karena ia akan menjadi sumber pemborosan. Tidak perlu pengeluaran dana yang besar apabila semua peserta festival datang untuk untuk satu tujuan yaitu melestrarikan budaya leluhur dan memperkenalkannya kepada dunia luar.
Introduce our unique cultures to the world, send the message to them that we love peace and freedom in different way that we behave.







![DSC02218[1]](http://heldiansyah.files.wordpress.com/2012/05/dsc022181.jpg?w=300&h=225)













































































Hari kedua bangun pagi pagi persiapan olahraga, Andi Maulana memimpin stretching. Kalo kata Mas Tri sih strecthingnya lebih mirip persiapan latian Karate…Team kami bagi gua group dan pertandingan Polo airpun dimulai. Saya satu tim dengan heru, okky dan bella. Lawan kami mas Broto, Andi, Ririen dan Teguh. Sukardi dan Nana wasit, dan Ary masuk belakangan menggantikan Mas Broto. Hasilnya team saya kalah telak 7 – 3, that was really fun dan yang bikin cape bukan Polonya tapi ketawanya. Tepatnya itu Polo air campur wrestling. Di pertandingan gebug bantal si Andi ga terkalahkan, saya kira sih dia biasa practices di rumah ngegebug bantal 
Waktu lagi tugas ke The Hague, Netherland saya sempatkan jalan jalan ke Scheveningen. Setahun lalu saya pernah menginap hampir sepekan di Europa hotel di scheveningen yang dekat dengan pantai laut utara. Kali ini saya menginap di Wassenaar Den Haag, untuk bisa jalan jalan ke Scheveningen saya terpaksa harus naik cab yang gile bener mahalnya. Perjalanan ke scheveningen ditempuh kurang lebih 30menit, pemandangan khas Netherland dengan tanah datar dan perkebunan. Beberapa ruas jalan terlihat lagi di upgrade. Kualitas dan design civil structure jalan dan jembatan di Belanda memang luar biasa excellent dan cantik. Saya melewati penjara besar di The Hague dimana penjahat perang Serbia Bosnia Rodovan Karajzick pernah ditahan di situ, ada rumah makan padang Garuda. Gedung gedung tua terawat dengan arsitektur khas Belanda, hujan gerimis membasahi jalan, banyak pengendara sepeda terlihat mengenakan jaket dan syal mehanan dinginnya udara . Karena sudah jam 7 sore lebih kebanyakan toko toko sudah banyak yang tutup, masih ada beberapa toko buka utamanya toko souvenir. Toko toko kaki lima di sepanjang pantai masih ada yang buka, karena masih musim semi
Semakin malam pertokoan semakin sepi, pilihanpun sudah ngga banyak. Angin udara dingin benar benar menusuk sampai ke telinga, untungnya saya pake topi yang bisa menutup kepala sampai telinga. Saya membeli bebeapa souvenir untuk dirumah dan teman teman se kantor. Perut lapar, sayapun mencari restaurant, sialnya saya lupa bawa duit cash yang
Dengan pede saya cuma bawa
Attention yang diberikan suami ke istri atau istri ke suami, kakak ke adik, guru ke murid, orang tua ke anak dan sebaliknya, menurut saya ia adalah pertanda cinta dan kasih sayang yang diungkapkan dalam bentuk perhatian secara fisik maupun mental. Ukuran dan kualitas perhatian dapat dirasakan dan bisa dibuktikan sekalipun ia lebih banyak bersifat abstrak tapi tetaplah nyata. Attention dalam hubungan antara manusia bisa naik dan turun dari segi frequency, quality maupun jenisnya . Ia sangat dipengaruhi oleh berbagai factor misalnya lingkungan, teman, keluarga, ekonomi, jenis pekerjaan, kondisi kejiwaan, pengetahuan, jarak dan bahkan waktu. Karena itu yang perlu diutamakan dalam memberikan perhatian adalah sustainability disamping quality dan deliverability. Attention yang diberikan seorang atasan ke bawahan apabila hanya dalam kerangka bisnis saja menurut saya dia ngga akan bisa bertahan lama dan tulus. Tapi attention yang diberikan seorang leader kepada anggota teamnya, apabila dilakukan dengan tulus maka akan memberikan return yang dahsyat dalam bentuk semangat kerja, kebersamaan dan produktifitas.
Kalau kids lagi main…jangan sia siakan kesempatan. Coba kamu perhatikan , akan ada
Karya manusia seperti hasil riset, pemikiran, ungkapan dan ucapan bahkan penemuan/kreasi
Aku pernah dan sering malah berada di persimpangan jalan yang baru pertama kali aku lewati ketika mengemudikan kendaranku. Biasanya yang aku lakukan adalah check orientasiku, kemana tujuanku, melihat tanda tanda, bila perlu berhenti sebentar dan bertanya setelah itu aku putuskan untuk belok ke kiri, ke kanan, jalan terus atau bahkan berbalik arah. Keputusan yang aku ambil kadang benar dan kadang salah. Bila benar aku syukuri dan bila salah sekalipun ada rasa kesal tetap aku coba untuk aku syukuri. Karena paling ngga ada pengalaman terhadap kesalahan pengambilan keputusanku. Persimpangan jalan ngga selalu sama, ia berbeda pada lingkungan berbeda dan bahkan bentuk yang berbeda. Sebutan dalam bahasa Inggris “Round About” terhadap persimpangan jalan menurut aku tepat banget. Disitu ada ketidakpastian bagi yang akan mengambil keputusan dan kepastian terhadap kondisi persimpangan itu sendiri.
Kali ini saya mengajak anak anak
Kami berangkat kamis sore, ada sedikit incident kecil karena adiknya sahabat saya namanya Ayesha pingin satu mobil dengan anak anak saya (Syahla, Syaikha dan Bilal) tapi oleh ibunya tadinya ngga dibolehkan. Setelah negosiasi panjang akhirnya berangkat juga, hari sudah sore.
Besok paginya mereka sudah sibuk dan bingung karena kelewat banyak yang interesting dan pingin dikerjakan. Mereka mulai dari berpetualang menjelajahi lingkungan sekitar villa, ke kebun, ke kolam ikan , jalan di atas tanggul kolam, melompat melewati pintu air, mancing ikan, leaf racing di saluran air, naik kuda keliling lingkungan sekitar, main gelembung sabun, kasih makan ikan. Makan siangpun jadi lahap dan banyak, senangnya. Malamnya kami ke safari malam, ternyata pengunjung safari malam membludak dan kami ngantri cukup lama untuk bisa naik bus keliling safari malam. Anak anak antusias banget, terutama meliat hewan hewan liar diwaktu malam. Ini pertama kali bagi mereka melihat hewan hewan berbagai jenis diwaktu malam, yang paling kami kagumi adalah harimau putih dari Benggal India, ukurannya sangat besar dan keliatan sangat kuat dan gagah sekali.
Sarapan di pagi hari selalu rame dan seru, karena anak anak sudah ngga sabar mau berpetualang lagi keliling kebun dan memancing ikan. Siang harinya mereka sudah laper lagi dan makannya lebih seru. Waktu lagi mincing, ada tukang es krim lewat, semua pancing mereka tinggal dan nguber tukang jual es krim. Sangking hot-nya makan es krim wajah mereka cemong semuanya. Sore hari mereka saya ajak berenang di kota bunga, kami kira airnya hangat ngga taunya dingin banget…Syaikha ngga kuat jadi berenanganya cuma sebentar. Syahla, Bilal dan Ayesha lanjut berenang tapi keliatan gemeteran karena dingin. Ada sedikit incident, ternyata celana dalam mereka ketinggalan di villa, terpaksa mereka aku pakaikan celana dalamku yang untungnya aku bawa spare di tasku. Tapi bilal dan Syahla ngga dapet celana dalam, duh kasiannya mana udaranya dingin lagi. Sampai di mobil mereka aku hangatkan dengan udara hangat dari AC. Kami kembali ke Vila untuk siap siap makan malam dan berbagi cerita….

Saya mulai dari sektor makanan. Jenis makanan adalah sesuai dengan daerah asal makanan tersebut. Kalau kamu pernah atau sering makan di warung tegal, maka pemiliknya adalah mayoritas memang berasal dari tegal, jawa tengah. Menunya hampir sama : tempe, tahu, ikan goreng, orak arik tempe, sambel goreng kentang, telur dadar dsb. Biasanya makanan yang ngga habis hari ini dipanaskan lagi buat besok, dan seterusnya. Model warungnapun streamline, mulai dari jenis bangku, meja kotak, sampai daun pintunyapun mirip. Cat pintu dan kusen nya rata rata hijau muda dan sudah pudar. Harganya relatif sama, plus ada rokok ketengan. Rata rata pengusaha warung tegal mempunyai beberapa cabang dan seringkali karyawannya di rotasi untuk me maintain kualitas pelayanan dan tentunya bagian dari upaya training. Jam buka Warteg biasanya dari pagi sampe menjelang tengah malam. Warteg adalah tempat mangkal paforit tukang ojek, tukang beca, tukang bangunan dan mahasiswa perantauan. Tanpa warteg, ngga bisa dibayangkan nasib mahasiswa , tukang ojek dan tukang beca. Karena makan minum di situ sangat murah bahkan boleh ngutang.
Bagaimana dengan bisnis perkreditan, rata rata tukang kredit datang dari garut dan ciamis. Ntah kenapa, mereka sangat handal mengelola kredit barang kebutuhan rumah tangga, pakaian dsb. Barber shop ada yang dimiliki oleh Asgar (asli garut) tapi ada juga yang dari soerabaya. Bengkel tambal ban rajanya adalah dari suku Batak, mereka sangat tuff bahkan ada yang buka 24 jam non stop. Karena memang di Jakarta paku jebakan bertebaran 24 jam dan siap memangsa pemakai jalan raya. Bengkel tambal ban sangat membantu bila ban mobil atau motor kita terperangkap jebakan paku. Bengkel mobil dan motor, yang skala besar biasanya dikuasai etnis China dan skala menengah kebawah biasanya campuran ada China, Jawa dan Batak. Bagaimana dengan bisnis pakaian, di bisnis ini rajanya adalah orang Padang. Mereka banyak menguasai bisnis perdagangan pakaian mulai dari pasar Tanah Abang, Cipulir, Blok M , Mayestik, Cipadu bahkan sampai yang kaki lima di pasar kaget mingguan. Untuk sector kain, yang juga banyak menguasai adalah etnis India terutama yang bermerek. Bisnis besi bekas, baik yang loak maupun yang skala besar benar benar dikuasai etnis Madura. Mereka sudah sangat ahli dalam soal perbesian, dan kemampuan mereka untuk mengumpulkan dan memproses ulang semua jenis logam sangat luar biasa dan sulit tertandingi. Hampir semua keberadaan besi bekas di Indonesia bisa mereka deteksi dan sanggup dimobilisasi, bahkan bangkai kapal laut, anjungan, tangki atau pesawat udara bisa mereka sulap menjadi potongan kecil logam yang siap dilebur ulang.
Kami bernostalgia dan mengingat ingat siapa saja team kami dulu waktu di Sengkang. Dulsomad menyuguhkan kami berbagai makanan, mulai dari es kelapa muda, tempe mendoan, sukun dan banyak lagi. Dulsomad rambutnya sudah putih, dia sekarang di rumah aja karena tanah , sawah dan kebunya banyak. Cukup untuk membiayai anak-anaknya kuliah.Dia baru mau ke offshore kalau ada tawaran yang tinggi terutama di luar negeri. Dulsomad dan Mukti masih kuat merokok, hal yang juga ngga berubah. Ceritanya ngga habis habis, sampai akhirnya kakaku menewari mereka untuk main kerumah kakakku. Dirumah kakak, kami disuguhi makan siang dan habis itu lanjut lagi ngobrol sampe sore…..rasanya hari itu luar biasa bahagia setelah hampir 11 tahun ngga ketemu. Sekalipun ahmad kastari lagi ngga ada di tempat, kangen saya terobati…
Karena urusan pekerjaan, saya sudah sering bolak balik ke KL selama bertahun tahun tapi belum ada kesempatan berkunjung ke Malaka. Kali ini di penghujung tahun saya berkesempatan jalan jalan ke Malaka. Berdua dengan kawan, kami niat banget ke sana. Dari Kuala Lumpur kami pagi pagi sekali berangkat ke stasiun bus di Pudu Raya. Kami membeli tiket pergi saja, dengan perkiraan pulangnya pasti banyak bus kosong sebagaimana di Indonesia. Stasiun bus pudu raya ngga seperti stasiun bus di Indonesia yang rata rata berada di lapangan terbuka panas dan kumuh. Disana pengaturan bus lebih tertib,penumpang menunggu di masing masing anjungan di lantai atas. Sambil menunngu bus,kami membeli makanan dan minuman. Yang paling saya ingat adalah bakpau kacang hijau dan kacang merah yang kami beli sangatlah enak dan belum pernah kami jumpai bakpau seenak itu di Indonesia. Tangga akses ke bus baru dibuka ketika bus sudah siap di jalurnya. Penumpangpun mengantri dengan tertib dan pemeriksaan tiket sangat ketat.

seseorang tarhadap kegagalan dalam mencapai sesuatu bisa berlangsung lama dan berakibat biasa saja atau bisa saja berlangsung cepat tapi akibatnya luar biasa. Setiap response biasanya diawali dengan waktu tunda yaitu ada fungsi waktu tapi fungsi jarak atau jumlah nilainya kecil sekali sehingga tidak membawa akibat yang bisa dilihat dari expresi. Waktu tunda dan kecepatan mengatasi response akan berbanding lurus dengan kemampuan dan ketahanan seseorang. Saya sebut ini sebagai Individual Performance yang bisa di kelompokan ke dalam Performance Index dengan berbagai level. Performance Index tidak statis tapi dinamis artinya bisa dibentuk dan bisa juga mengalami degradasi. Pendidikan, lingkungan dan pengalaman bisa membentuk performance index sesorang tapi semangat, disturbansi dan lingkungan juga bisa mengurangi performance index. Factor overlap dari penambahan dan pengurangan PI adalah lingkungan. Bagi saya faktor lingkungan itu memiliki komposisi yang luas seperti pendidikan informal berupa learning by doing, encouragement atau motivasi yang bisa menambah atau malah mengurangi spirit, keseragaman yang juga bisa merubah habit dan culture bahkan pergaulan yang bisa menggiring terhadap perubahan baik drastis maupun long term. Karenanya perlu ada ketetapan hati dan kalibrasi terhadap komponen kemampuan pribadi yang kita miliki.
Lebaran festive September 2009, aku dan anak anakku dapar rizki dan kesempatan untuk pulang ke kampung halaman di Tarakan. Tiada bandingannya bila kita mendapat kesempatan untuk berlebaran bersama keluarga terutama orang tua dan saudara. There always a great moment to meet and chat with my big family. Persiapan untuk pulang kampung sudah kami lakukan jauh sebelum Ramadhan, anak anak menjadi lebih bersemangat menjalankan ibadah puasa Ramadhan karena setelah itu akan pulang kampung….ya…. pulang kampung the magic of idul fitri festivity. Sambil puasa anak anakku menghitung mundur hari the date of flying to my home town.
They had feeling excited when we were back to my home town couple years a go but now they feel so more exciting. Perhaps this time most of entire families come and gathered in my lovely parent house. Warm welcome from my brothers and sisters have made us feel so excited and truly happy.
Ramadhan hari ke 27 setelah I’tikaf dengan my love, kami makan sahur dan siap siap berangkat ke airport. Anak anak ngga keliatan mengantuk, masing masing memanggul their back packs. There always so sad when I have to leaving my love alone, she can’t join us due to some reasons. Kami terbang ke Balikpapan selama kurang lebih 2 jam , transit sebentar di Balikpapan dan lanjut terbang ke Tarakan selama 50 menit. Dari udara sudah keliatan pulau Tarakan yang coast line-nya sudah bertaburan tambak udang/ikan. First impression from kids were “My God, here is so warm even warmer than Jakarta”, aku bilang Tarakan kalau siang memang panas tapi pagi, sore dan malamnya will be so nice. Apalagi bintang bintang bisa terlihat jelas dan cantik. Kami dijemput kakaku Bang Engkus (namanya M.Khusni Tamrin) dan anaknya si Ibnu. Karena barang barang kami lumayan banyak akhirnya kami putuskan untuk ambil 2 taxi. Tarakan doesn’t change so much even slow compare to couple years a go when I and family went there, even though I notice more motorcycles on the road. Sampai di Markoni (rumah orang tuaku) semua saudara sudah menunggu di warung kopi kakaku Bang Firman, that was so nice and happy expressed from all of them when welcoming our arrival, thanks God you gave me long age to see them again.
Rumah Bang Firman pas di depan halaman depan rumah orang tuaku, di rumah Mama tercinta sudah menunggu dengan derai air mata kebahagiaan dia menyambutku dan anak anakku warm hugs and kiss from her to us, lovely kiss. My father is still ill, he just can crying when welcoming us. He was 84 years old, looks weak but still having high spirit as usual. He is a former rebels and veteran of Indonesia army.
Buka puasa di hari pertama kedatangan kami di Tarakan serasa meriah banget, makanan berlimpah dan kami kumpul semua di dapur Mama. There always so tempted when eating there, not only because the taste but more about the nice and warm environment from those brothers sisters make any kind of food feel delicious. Bener saja, kepiting saus Ka Tuti ueenaak banget, anak anaku makan lahap sekali seperti habis tersesat dihutan dan kelaperan….My borthers and sisters watched them dengan tatapan mata kasian. Buah tarab yang dipetik dari kebun halaman belakang rumah jadi penutup makan malam kami, Cuma aku dan anak anaku yang menyerbu buah tarab itu…that was so long haven’t taste the sweet fruit. Ka Udin, suaminya Ka Tuti yang memetik dan menyimpan buah kesukaanku itu khusus untuk kami. Malam pertama di Tarakan, aku tarawih di rumah tapi subuhnya Alhamdulillah bisa Jamaah di Masjid Markoni yang sudah ada dan jadi tempat mainku sejak aku SD. Dulu sih masjidnya berlantai kayu dan ada kolongnya tapi sekarang sudah megah, luas dan bagus banget. Di masjid, aku sempat ketemu dengan beberapa teman kecilku.
Hari hari selanjutnya were running so fast but very nice and memorable, kumpul, ngobrol, ketemu saudara, nongkrong di warung Bang Firman, duduk santai dan ngobrol sama si Mama, memapah Abah kalo dia mau ke toilet, nyiapin pakaian Syahla dan Syaikha kalo mereka mau mandi, jalan jalan keliling kota kecil yang bagiku indah dan menarik, mengajak anak anak dan ponakan ke pantai dan mangrove, jajan di warung Bang Firman, duduk santai dengan para kakak di tepi kali di depan warung Bang Firman dan makan rame rame di dapur Mama dengan masakan super nikmat buatan Ka Tuti. Ngga lupa makan buah tarab dan Lai…hmmmm lengkap sudah the most memorable pulang kampung lebaran kami. Bang Iwan dengan istri dan anak anaknya datang just a day before lebaran, anak anaknya tinggi tinggi dan besar. Syahla dan Syaikha sudah lama menunggu kedatangan Dina anaknya Bang Iwan yang paling kecil. Syahla, Syaikha, Dina dan Webi (anaknya Bang Bob) empat serangkai berumur hampir sama, mereka mandi, tidur, makan dan main selalu bersama. Anak anaku bilang mereka bebas kalo di Tarakan bisa main di TK dekat rumah, ke ladang sapi, main di parit besar, jajan di warung julaknya dan ngga pernah tidur siang duh…untung saja ini masa liburan sekolah.
Anaku yang paling besar Mas Eggi juga sibuk dengan sepupu sepupunya naik motor keliling kota, kepantai dan kalo malam mereka ngumpul sambil main kartu. Pantas saja waktu kembali ke Jakarta mereka post power syndrome alias rindu masa liburan dan pingin balik lagi ke Tarakan segera. Suatu waktu si empat serangkai aku ajak ke ladang minyak tua tempat dulu semasa kecil aku sering main dari pulang sekolah hingga menjelang magrib. Tarakan memang kota minyak dan dulu sangat terkenal sebagai ladang minyak BPM (Shell) kemudian Pertamina. Masa kecilku banyak kuhabiskan untuk menonton orang membor dan men service sumur minyak. That was inspired me to study and work only in Oil & Gas industries until today.
Malam takbiran kali ini adalah malam takbiran yang sangat meriah dan menyenangkan bagi kami sekeluarga, disamping kami ngumpul semua banyak adegan adegan lucu dari anak-anak dan keponakan. Aku ajak mereka ke penjual petasan dan kembang api di markoni, betapa senangnya melihat mereka bergembira ria menyambut Idul Fitri. Setelah sholat subuh aku bangunkan anak anaku untuk siap siap ke masjid. Paginya kami sekeluarga sholat Ied di Masjid Markoni. Mama dan Abah sudah ngga bisa ke mana mana, mereka just stay at home. Seperti biasanya, selesai sholat Ied rumah kami diserbu para tamu mulai dari tetangga, keluarga, kerabat dan pejabat pejabat daerah karena orang tuaku termasuk yang dituakan di kota itu. Bang Rahmat beserta keluarganya dan adiku Yani dengan suaminya Gunter baru sampe di rumah sekitar jam 11 siang di hari pertama lebaran. Suasana rumah tambah rame dan padat. Acara sungkeman di mulai, satu persatu sungkem mulai dari Bang Bob beserta istri dan anak anaknya, bang Iwan, Ka Tuti, Bang Rahmat, Bang Firman, Bang Engkus, Bang Ilham, Aku dan adikku Yani. Tahun ini Kakakku yang paling Tua Ka Tia yang tinggal di Nunukan ngga bisa datang karena kondisi kesehatannya yang kurang baik.
Rasa sedih dan gembira kumpul menjadi satu. Menu masakan lebaran kami seperti biasa adalah soto banjar dan kare daging sapi. Ka Udin mesti memotong 12 ekor ayam kampung peliharannya untuk soto banjar bikinan Ka Tuti. Anak anak dan keponakan banjir duit THR….dan hadiah oleh oleh dari Julak, Paman dan acilnya. For mostly people extra spending during lebaran period is common and doesn’t matter because it shall return unless they make their family happy. No wonder if money cycling during lebaran festive is always faster and increase significantly.
Aku Alhamdulillah berkesempatan visit ke Bulungan tanah kelahiran aku, fortunately I have my childhood colleague there she is happy to accompany me looking around the town. Naik speed yang paling pagi dari Tarakan ke bulungan butuh waktu 1 jam 20 menit. Sampai di bulungan kawanku Ifau dan keponakannya (Gian, Albi dan Diego) menjemput aku di pelabuhan, kamipun keliling kota bulungan yang menurut aku perkembanngannya malah jauh lebih lamban dari Tarakan. Aku sempatkan melihat bekas rumah dinas ayahku dulu, aku sempat tinggal disitu dari kecil hingga kelas 3 SD. Bentuk, interior dan exterior rumah itu nyaris masih sama dengan puluhan tahun yang lalu. Yang aku ingat according to my parents the house had built by Dutch for their army staff.
Yang menempati rumah tersebut sekarang masih dari TNI dan istri dari penghuni rumah untunngnya saat itu ada dan aku diperbolehkan mengambil photo photo di dalam dan di luar rumah. Aku diajak Ifau silaturahim ke tempat saudaraku dari pihak Abah dan ke saudara saudara Ifau sendiri. Paling seru waktu makan siang dengan 3 orang ponakan Ifau, setelah itu kami makan duren dan lai yang rasanya dahsyat…naik ketingting (perahu dengan mesin kecil) kami menyeberang ke Tanjung Palas untuk meliat museum peninggalan Sultan Bulungan. I amaze with the territory of the last Sultan Bulungan M.Maulana Jalaludhin. Dari catatan sejarah Sultan yang kaya raya itu memiliki kapal pesiar dan Kapal penumpang besar bernama Boelungan-Netherland yang ia pakai untuk berkunjung ke Belanda di tahun 1938 guna menghadiri pernikana Putri (ketika itu) Beatrice dari Kerajaan Belanda.
Perjalanan ke eropa dengan kapal itu memakan waktu satu bulan. Kesultanan yang awalnya memiliki 3 keraton megah yang terbakar di tahun 1968, kini yang tersisa tinggal museum dan sedikit barang peninggalan.
Aku punya sahabat setia dari SD, SMP hingga SMA namanya Tono. Setiap kali aku pulang kampung, sahabat yang pertama kali aku cari adalah si Tono. Dia ajak aku ketemu teman teman SMA dulu, ada yang sudah 24 tahun ngga ketemu seperti si Bambang Ariyanto. Kami ngumpul di rumah Amri Idrus, Kapt.Polisi dan k
Tarakan kena imbas dari kabut hasil kebarakan hutan, selama 4 hari bandara ditutup dan tidak ada penerbangan. Terpaksa schedule kepulanganku tertunda, padahal kami sudah ke airpot siap siap pulang. untuk itu anakku luar biasa senang karena mereka berharap bisa stay along in Tarakan. Masa yang paling tidak disukai adalah perpisahan, kembali berpisah dengan Mama, Abah saudara saudaraku dan sahabat. Kami kembali ke Jakarta dengan perasaah senang bisa pulang kampung tapi juga sedih karena terlalu banyak kenangan dan orang orang baik yang kami tinggalkan. My kids suggested to me to get a job there, move and stay in Tarakan because they love Tarakan so much. Hope one day, when I was retired I able to return home doing teaching and set up my own business to develop my home town far beyond the current condition.

































