Berawal dari Cunda Calapa, Jayakarta, Batavia, terakhir sebutannya menjadi Jakarta. Sebagai Ibukota Negara , Jakarta pantas disebut sebagai kota Megapolitan  dan Bandar Empat Zaman. Jakarta memang sebuah kota yang megah, sebagai kota jasa (Service City) ia menjadi tumpuan harapan lebih dari 12,5 juta penduduk yang menurut survey 70 persen warganya adalah pendatang. Perkembangan morfologi Kota Jakarta menurut pendapat saya dapat dibagi menjadi 4 tahapan.

1.  Tahap pertama dimulai pada masa pemerintahan Jayawikarta pada tahun 1618 dengan membangun tepian sungai Ciliwung sebagai pusat pemerintahan dan perekonomian. Pangeran Jayawikarta, pengikut dari Sultan Banten, yang bertakhta di tepian barat sungai Ciliwung, yang pada awal abad ke 17 mengalir sampai ke Pasar Ikan. Ia mendirikan sebuah post militer untuk mengawasi muara sungai dan orang orang Belanda, yang dia izinkan untuk membangun gudang dari kayu ditahun 1610, serta perumahan diseberangnya tepian timur. Kapal kapal Belanda telah merapat didermaga Jayakarta ditahun 1596. Untuk mengimbangi kekuatan Belanda, pangeran Jayawikarta mengizinkan Inggris membangun komplex ditepian barat sungai Ciliwung, diseberang gudang gudang Belanda. Pada 1615 sang pangeran memberikan izin pada orang orang Inggris untuk mendirikan benteng didekat kantor pabean. Perlindungan Inggris ini penting sekali, sebab istana pangeran berada dalam jarak trembak meriam meriam Belanda.

2.  Tahap Kedua dimulai pada tahun 1619 ketika datangnya bangsa Belanda yang diperbolehkan membangun Benteng pertahanan dan membuat pemukiman untuk warga Belanda. Dijuluki sebagai “Queen of The East” Batavia (sebutan ketika itu) sudah mulai tampak sebagai bakal bandar besar pusat pemerintahan dan perekonomian. Karenanya untuk memperkuat posisi pemerintahan kolonial dan memperlancar pertumbuhan ekonomi, pemerintah kolonial membangun infrastruktur kota Batavia dengan perencanaan sedemikian rupa. Diataranya pelabuhan, pusat pemerintahan, pemukiman, benteng pertahanan militer, pusat hiburan, pusat perbelanjaan dan sarana transportasi berupa kanal-kanal. Herman Willem Daendels adalah seorang politikus Belanda yang merupakan Gubernur Jendral Hindia Belanda yang ke-36. Ia memerintah di Batavia antara tahun 1808 – 1811.

3.   3. Tahap ketiga, ketika presiden pertama RI   Ir.Sukarno menunjuk Ali Sadikin sebagai Gubernur Jakarta untuk membangun Jakarta menjadi setara dengan kota-kota besar di dunia. Warga kota pada awal tahun 1970 berjumlah sekitar empat juta orang. Ali Sadikin bertekat untuk merubah dan membangun kota Jakarta menjadi kota metropolitan tidak kalah dengan ibukota negar-negara tetangga di Asia. Ali Sadikin adalah gubernur yang sangat berjasa dalam mengembangkan Jakarta menjadi sebuah kota metropolitan yang modern. Di bawah kepemimpinannya Jakarta mengalami banyak perubahan karena proyek-proyek pembangunan buah pikiran Bang AliSejak tahun 1970-an seperti Taman Ismail Marzuki, Kebun Binatang Ragunan, Proyek Senen, Taman Impian Jaya Ancol, Taman Ria Monas, Taman Ria Remaja,Kota satelit Pluit, dan pelestarian budaya Betawi di Condet dan masih banyak lagi termasuk proyek MHT. Melalui dekade itu, Kota Jakarta berkembang pesat hingga awal tahun 2000-an.

4.   Tahap Keempat, ketika Gubernur Sutiyoso dengan tangan besinya menertibkan dan membangun kembali Jakarta yang modern & dinamis. Periode pertama dia menjabat terjadi kerusuhan, sehingga pertumbuhan ekonomi Jakarta kala itu minus Rp17,4 persen. lalu dia membenahi secara berangsur-angsur sehingga tahun 2002 APBD DKI Jakarta menjadi Rp9,4 triliun. Kemudian Bang Yos dipercaya menjadi gubernur periode berikutnya, dan dia menyusun dedicated program dan program peningkatan kesehjateraan, termasuk gaji guru, kesehatan, dan pendidikan. Kemudian pada periode kedua APBD DKI Jakarta sudah mencapai Rp21,9 triliun. Karya monumental Sutiyoso diantaranya pembangunan Bus Way yang telah membawa perubahan cara pandang warga Jakarta terhadap public transport , pembangunan kembali banjir kanal, peremajaan kawasan Monas dan Senayan, merubah total kawasan kumuh Kramat Tunggak  menjadi Islamic Center and megah, pembangunan taman-taman – kota satelit dan banyak lagi.

 

Dalam hampir empat dekade, luas wilayah kota bertambah dari sekitar 300 km2 menjadi sekitar 700 km2. Sementara itu, kepadatan penduduk turut meningkat. Catatan statistik menunjukkan, kepadatan penduduk Jakarta tahun 1995 ini pada kisaran di atas 12.000 orang/km2, sedangkan kepadatan penduduk di tahun 2002 diperkirakan melebihi 15.000 orang/km2.

 

Kini Jakarta memerlukan Tahapan Kelima untuk membangun kembali infrastruktur modern seperti pelabuhan laut dan udara, banjir kanal, mass rapid transportation system, penataan ulang kawasan industri dan pemukiman, pembangunan lebih banyak taman sebagai paru-paru kota, penataan ulang penempatan pusat perbelanjaan dan pemberdayaan pasar-pasar tradisionil, peningkatan sarana-prasarana pendidikan & rumah sakit, pembangunan rumah susun murah, sarana ibadah dan rekreasi, dlsb.Yang tidak kalah penting adalah membangun kultur dan kebiasaan positif warga Jakarta mulai dari disiplin dalam berkendaraan dan di jalan raya, cinta pada kebersihan dan kerapihan , mengelola sampah dengan benar dan melestraikan lingkungan supaya lebih hijau dan bersih.

 

Source : Dari berbagai sumber